Sabtu, 29 Juni 2019

9 Kesalahan Yang Sering Dilakukan WaliSantri saat Menginap di Pesantren


Bagi wali santri khususnya, Mudhifah sebenarnya bukan bertamasya dalam arti sekedar mengisi kejenuhan aktifitas. Lebih dari itu mudhifah bagi sebagian berlaku sebagai obat kerinduan yang tidak bisa terwakili. Mudhifah juga bisa sebagai bentuk perjuangan walisantri dalam hubungannya dengan anak2nya. Karena dalam mudhifah juga mesti ada pengorbanan: biaya, waktu dan tenaga. Tapi sungguh semua itu terbayar dengan dapat melihat buah hatinya secara langsung sedang berjihad ilmu.

Tapi sebagaimana pun kadang kesenangan bisa juga melalaikan. Kelalaian disebabkan kelupaan bahwa kita berkunjung di suatu tempat yang sebenarnya memiliki aturan. Yang mana kelalaian ini kadang terjadi tanpa disadari atau keterpaksaan. Mungkin kita salah satu dari itu.

Beberapa kesalahan yg sering nampak disaat walisantri menginap di Pesantren(Penulis mengambil pengalaman di Bapenta Gontor 1, tapi mungkin sama dengan pesantren lain) antara lain:

1. Lupa daftar kedatangan ke bagian Penerimaan Tamu saat bermalam di Bapenta

Karena terburu-buru atau lupa kadang walsan lupa mendaftarkan diri di bagian Penerimaan Tamu, padahal ini dimaksudkan untuk ketertiban pendataan dan keamanan. Mudah-mudahan tidak ada yang menganggap remeh dengan proses pendaftaran ini.

2. Tidur tidak pada tempat seharusnya
Beberapa Pondok telah menyiapkan ruang khusus untuk bermalam sementara bagi wali santri. Dan Pondok telah mengatur bagian-bagian dimana Ibu2/wanita tidur dan dimana Bapak/laki. Tapi kadang masih kita lihat dalam satu ruangan bercampur pengunjung laki2 dan perempuan.

3. Tidak Sedikit Yang Membuang Sampah Sembarangan
Ini hal yang paling banyak dikeluhkan walisantri yang melihat wali santri lain dengan tanpa rasa bersalah membuang sampah sembarangan, atau memakai fasilitas Bapenta seperti meja atau lantai dengan jorok. Mereka mungkin lupa bahwa di pondok tidak ada petugas cleaning service melainkan santri2 juga.

4. Tidak menjaga Fasilitas Pondok dengan Benar.
Fasilitas yang sering dikeluhkan wali santri lain terhadap beberapa wali santri yang kurang peduli yaitu seperti Kamar mandi. Tidak jarang kita melihat sampah di kamar mandi, atau sisa pembalut, atau pakaian yang tertinggal, atau bahkan kotoran yang belum disiram. Belum lagi sepatu kotor yang kadang mengotori lantai, atau meja makan yang tersisa makanan sisa yang tidak dibuang.

5. Menjemur Pakaian di Pagar
Bapenta sudah menyiapkan sarana wali santri untuk menjemur pakaian dilantai atas gedung Bapenta, tapi tidak jarang kita lihat masih ada yang menjemur pakaian di pagar-pagar lantai 2 dan 3.

6. Memakai Alat Listrik Yang Dilarang
Bapenta menyediakan listrik hanya untuk keperluan seadanya seperi untuk penerangan dan cas alat komunikasi itupun hanya di Bagian Penerimaan Tamu (tapi jangan lupa ngencleng ya 😀), tapi masih ada yang memakai alat yang mengkonsumsi daya listrik yang besar, seperti water heater, rice cooker dan lain-lain. Padahal wali santri tidak dibebankan biaya penginapan.

7. Tidak membayar sewa Kasur.
Beberapa pesantren menyediakan kasur bagi wali santri untuk disewa sebagai alas tidur. Mungkin Walsan lupa atau tidak tahu bahwa kasur lipat itu didapat dengan cara disewa. Mungkin ini salah satu sumber biaya perawatan pesantren. Jadi yang baru tahu atau lupa hayo mulai berikutnya bayar! 😁

8. Menahan Anak Terlalu Lama Saat Bertemu
Ini biasanya tidak terjadi pada santri2 lama karena biasanya santrinya yang sering minta buru-buru. Beberapa terjadi pada santri baru, yang kadang santrinya atau orangtuanya masih belum puas melepas rindu.

9. Berlama-lama Menginap
Ada yang pindah kost an ke pesantren? 😁. Walau gratis dengan berbagai fasilitas tapi terlalu lama menginap di Bapenta juga menjadi tidak bijak, baik bagi walsan lain maupun bahkan bagi kebaikan studi anaknya sendiri. Pondok menganjurkan paling cepat 3 bulan sekali dan lama berkunjung katanya idealnya paling lama 3 hari.

Demikian yang teringat dan tercatat yang bisa disampaikan, mungkin ada yang kurang tepat atau ada poin yang belum tercatat, dengan senang hati menerima masukan.


Filofosi T.I.T.I.P dalam Menitipkan Anak di Pesantren
Menjadi santri adalah sebuah pilihan dan juga nikmat yang amat berharga dalam diri seseorang, santri atau pelajar baru yang baru masuk pesantren pada umumnya akan mengalami sedikit masalah dengan proses adaptasi dengan lingkungan pesantren.

Orang tua sangat mengiginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk ketika orang tua telah sepakat untuk memasukan anaknya ke dalam pesantren, ketika semua sudah dipersiapka jauh-jauh hari agar anaknya kerasan dan betah di pesantren, tetapi yang namanya anak baru di pesantren,tetap saja tidak bisa lansung bisa menyesuaikan dengan kondisi system dan lingkungan pesantren.

Meskipun ada beberapa santri baru, yang bisa benar-benar langsung kerasan dan bahagia ketika hari-hari pertama masuk pesantren, tetapi itupun tidak dialami oleh kebanyakan santri baru. Dan hal-hal yang kadang membuat mereka tidak betah ketika awal masuk pesantren adalah seperti tidak punya teman, tidak ingin ditinggal oleh orang tua, bingung dan masih berusaha menyesuaikan dengan segala aktifitas di pesantren, teman se kamar masih sulit untuk berbaur dan bersosialisasi.

Nah, itulah yang biasanya akan dialami oleh santri baru ketika masuk ke pesantren, ketika tanda-tanda diatas dialami oleh santri baru, itu merupakan permasalahan inti dan setalah poin diatas diraskan olah santri baru, maka hal-hal dibawah ini juga akan otomatis mengiringi perasaan tidak kerasan mereka di  pesantren. Permasalahan itu pastinya membuat walisantri tambah bingung maka apa yang harus dilakukan walisantri ????? Penulis punya sedikit TIPS untuk walisantri dalam memperjuangkan anaknya  yaitu yang terkandung pada kata bahasa Jawa TITIP.

TI (YANG PERTAMA) = TEGA DAN IKHLAS.

Agar anak bisa sukses di pesantren, maka orangtua harus tega dan ikhlas melepas anaknya tumbuh dan berkembang di sana. Harus tega  meninggalkan anaknya, meski sang anak menangis ketika ditinggal. Harus tega dan ikhlas melihat anaknya bersusah payah mengatasi segala urusannya sendiri meskipun sampai habis air matanya.


TI (YANG KEDUA) = TABAH DAN ISTIQAMAH
Agar proses pendidikan anak bisa berhasil di pondok, maka orangtua harus tabah menjalani semuanya dan tetap istiqamah (konsisten) dengan niatan itu. Artinya, janganlah mudah surut hanya karena rengekan atau keluhan dari sang anak. Tetaplah konsisten dengan niatan semula. Sebab, menuntut ilmu itu tidaklah mudah, apalagi bagi anak yang terpisah dari orangtua, pastilah banyak halangan dan rintangan yang dihadapi. Jika orangtua tidak tabah dan istiqamah dalam menjalaninya, sedikit saja rengekan dari anaknya, akan dengan mudah membuat mundur dan tidak lagi melanjutkan pendidikan yang sudah direncanakan. Kalau pun ada rengekan dari santri tentang pondoknya pahami masalahnya dan disikapi sebaik mungkin tanpa tergesah gesah.

P = PERCAYA

Dan semua itu dasarnya adalah percaya bahwa PONDOK tidak akan menyia-nyiakan anak didiknya. Dengan niat yang tulus, proses pendidikan akan dijalankan dengan baik. Keikhlasan yang menjadi prinsip utama pendidikan di situ, insya Allah akan mampu memberikan pendidikan yang baik bagi para santrinya. INTINYA PERCAYA !!!!
Mungkin itulah yang bisa saya bagikan. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan referensi bagi calon santri baru, orang tua, wali santri yang memiliki niat mulia yaitu memasukan anaknya ke pondok pesantren, selamat mondok, Ayo Mondok.!! Semangat Mondok !!!! Pesantrenku Keren..!
Oleh Kharis Mahmud, S.Ag