Minggu, 30 Juni 2019

Penerima Penghargaan Santri Of The Year 2018

Penghargaan tahunan terhadap dunia santri tahun 2018 dilaksanakan Kampus UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel) Surabaya. Perhelatan ini digagas oleh Islam Nusantara Center (INC) dan Pustaka Compass selaku penyelenggara yang pada tahun ini bekerja sama dengan UIN Sunan Ampel Surabaya.

"Kami bangga menjadi bagian dari  Santri of  The  Year 2018," kata Rektor UINSA Surabaya, Prof Dr Masdar Hilmi.

Masdar berharap acara ini akan memberi inspirasi untuk bangsa. "Inilah bukti bahwa santri dan pesantren telah mengisi bangsa ini dengan banyak hal yang positif, inspiratif, dan kontributif," katanya.

Acara penyerahan penghargaan di Kampus UINSA, Senin, dihadiri sejumlah tokoh santri pejabat dan para pengurus NU, antara lain  ang  hadir antara lain Gubernur Jatim  terpilih Khofifah Indar Parawansa, Wagub Jatim terpilih Emil Dardak, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi. 

Berikut adalah Santri dan Pesantren inspiratif peraih penghargaan Santri of The Year 2018 :

1. Nominasi Pesantren Salaf Inspiratif : Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang
2. Nominasi Pesantren Modern Inspiratif : Pesantren Amanatul Ummah Surabaya-Mojokerto
3. Nominasi Pesantren Entrepreneur : Pesantren Al Mawaddah (Kudus)
4. Nominasi Pesantren Takhassus : Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo (Fiqh) 
5. Nominasi Santri Inspiratif Bidang Dakwah : Dr. KH. Imam Mawardi (Surabaya)
6. Nominasi Santri Inspiratif Bidang Pendidikan : Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag (Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
7. Santri Inspiratif Bidang Wirausaha/Entrepreneur Dahlan Iskan
8. Nominasi Santri Inspiratif Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintahan Kabupaten/Kotamadya : H. Asip Kholbihi, SH., M.Si (Bupati Pekalongan)
9.Nominasi Santri Inspiratif Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintahan Provinsi : Dr. H. Nurdin Basirun Gubernur Kepulauan Riau)
10. Nominasi Santri Inspiratif Bidang Seni & Budaya : Veryal Eisha Aqila ‘Veve’ Zulfikar (Sidoarjo).
11. Pahlawan Santri 2018 : KH Masjkur Malang
12. Santri Mengabdi Sepanjang Hayat : KH. Hasyim Muzadi
Profil Pesantren: PONDOK PESANTREN MODERN SELAMAT

Pondok Pesantren Modern Selamat merupakan salah satu pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Dimana pondok pesantren tersebut ada di bawah naungan sebuah Yayasan yang didirikan oleh Bapak H Slamet Soemadyo pada tahun 1992 yang bernama Yayasan Wakaf Selamat Rahayu. Didirikanya Pondok Pesantren Modern Selamat adalah untuk menjadi tempat menuntun ilmu pendidikan agama dan juga formal dengan fasilitan yang lengkap.

Dari sisi Geografis letak dari pondok pesantren terletak di Desa Jambearum Jln. Soekarno Hatta Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. Aksesnya cukup strategis karena berada di jalur utama Semarang Jakarta.


Di Pondok Pesantren Modern Selamat sendiri terdapat dua sekolah yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dimana kedua sekolah tersebut telah mendapatkan Standar Nasional. Selain itu ada beberapa kelas unggulan di SMP ataupun SMA yang disediakan untuk putra putri anda yang memiliki pengetahuan yang lebih dari rata rata.


Kegiatan rutin di Pondok Pesantren Modern Selamat ada beberaoa progam kajian utama mengenai ilmu agama. Dimana Kajian Alqur'an, Hadits dan Tawadlu. Selain ilmu agama yang kental dalam sebuah pondok pesantren, Pondok Pesantren Modern Selamat juga akan memberikan berbagai ketrampilan tambahan seperto Tata Boga, Melukis, Sbalon dan Tari. Selain itu Pondok Pesantren Modern Selamat juga menawarkan progam esktrakulikuler sesuai dengan hobi dan bakat yang dimiliki. Dimana ekstra yang disediakan adalah Pramuka, PMR, Seni Baca Alqur'an, Bela Diri, Olahraga dan Rebana.


Pondok Pesantren Modern Selamat telah dilengkapi dengan prasarana dan fasilitas yang lengkap dan memadai untuk menunjang kegiatan yang akan dilakukan di ponpes tersebut. Berikut adalah Fasilitas, sarana dan prasarana di Pondok Pesantren Modern Selamat :

Luas tanah ±18 hektar.
Masjid kapasitas 5000 jamaah
Asrama putra dan putri
Laboratorium
Ruang makan
Ruang kesehatan
Taman yang luas
Kolam renang
Aula
Lapangan olah raga : sepak bola, volly ball, sepak takraw, futsal, bulu tangkis, basket. 


Jika anda tertarik untuk memasukkan anak anda ke dalam pondok pesantren modern terbaik di jawa tengah yaitu Pondok Pesantren Modern Selamat maka lengkapi persyaratanya dibawah ini :

Persyaratan Umum
1. Berkeinginan kuat untuk belajar di pondok pesantren dan bersedia tinggal di asrama.
2. Sehat rohani dan jasmani.

Persyaratan Khusus :
1. Membayar biaya pendaftaran.
2. Mendatangani dan mengisi surat kesepakatan ketentuan / peraturan.
3. Menyerahkan pas foto hitam putih 3X4= 8 lembar, pas foto bewarna seluruh badan ukuran 2R 1 lembar.
4. 1 lembar fotokopi ijasah SD/MI, SMP/MTs yang dilegalisir.
5. 1 lembar fotokopi Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) yang dilegalisir.
(Bagi calon peserta didik yang belum menerima ijazah dan SKHUN dapat mendaftar dengan membawa fotokopi raport kelas 5 s/d 6 untuk SD/MI dan kelas 7 s/d 9 untuk SMP/Mts yang telah dilegalisir oleh sekolah).
6. 1 lembar fotokopi Akte Kelahiran / Surat Keterangan Lahir.
7. Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari sekolah asal.

Biaya Pendaftaran

Biaya tulisan masuk lebih lengkap bisa dibaca disini

INFORMASI PENDAFTARAN TERBARY
Informasi dan Pendaftaran dilayani setiap hari mulai pada bulan Agustus 2016 hingga Juli 2017, Tempat : Pondok Pesantren Modern Selamat Kendal, Jl.Soekarno-Hatta Km.03. Telp.085727631363, 085201157926.

Sabtu, 29 Juni 2019

Profil Pesantren: Daarunnajah, Ulujami Jakarta

Pondok Pesantren Darunnajah adalah salah satu pondok pesantren yang berlokasi di Jalan Ulujami Raya Nomor 86, Pesanggrahan Jakarta Selatan.

Sejarah Berdirinya Pesantren
Periode Cikal Bakal (1942-1960)
Pada tahun 1942 K.H. Abdul Manaf Mukhayyar mempunyai sekolah Madrasah Al-Islamiyah di Petunduhan Palmerah. Tahun 1959 tanah dan madrasah tersebut digusur untuk perluasan komplek Perkampungan Olah Raga Asian Games, yang sekarang dikenal dengan komplek Olah Raga Senayan. Untuk melanjutkan cita-citanya, maka diusahakanlah tanah di Ulujami.
Tahun 1960, didirikan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam (YKMI), dengan tujuan agar di atas tanah tersebut didirikan pesantren. Periode inilah yang disebut dengan periode cikal bakal, sebagai modal pertama berdirinya Pondok Pesantren Darunnajah.

Periode Rintisan (1961-1974)

Pada tahun 1961 K.H. Abdul Manaf membangun gedung madrasah enam lokal di atas tanah wakaf. Ide mendirikan pesantren didukung oleh kol.Pol.Drs.H. Kamaruzzaman yang saat itu sedang menyelesaikan kuliahnya diIAIN SUNAN KALIJAGA Yogyakarta. Untuk pengelolaan pendidikan diserahkan kepada Ust. Mahrus Amin, alumnus KMI Gontor yang mulai menetap di Jakarta pada tanggal 2 Februari 1961.
Karena banyaknya rintangan dan hambatan, maka pendidikan belum bisa dilaksanakan di Ulujami, tetapi dilaksanakan di Petukangan bersama beberapa tokoh masyarakat, diantarannya Ust. Abdillah Amin dan H. Ghozali, berkerjasama dengan YKMI, tanggal 1 Agustus 1961, Ust. Mahrus Amin mulai membina madrasah Ibtidaiyah Darunnajahdengan jumlah siswa sebanyak 75 orang dan tahun 1964 membuka Tsanawiyah dan TK Darunnajah. Balai pendidikan Darunnajah diresmikan pada tahun 1964.
Tahun 1970 ada usaha memindahkan pesantren ke Petukangan, tapi mengalami kegagalan. Dan usaha merintis pesantren pernah pula dicoba dengan menampung kurang lebih 9 anak dari Ulujami dan Petukangan, yakni antara tahun 1963-1964. Dan tahun 1972 menampung kurang lebih 15 anak di Petukangan, namun kedua usaha itu didak dapat dilanjutkan dengan berbagai kesulitan yang timbul.
Para periode ini, meskipun pesantren yang diharapkan belum terwujud, tetapi dengan usaha-usaha tersebut, Yayasan telah berhasil mempertahankan tanah wakaf di Ulujami dari berbagai rongrongan, antara lain BTI PKI saat itu.

Periode Pembinaan dan Penataan (1974-1987)

Pada tanggal 1 April 1974, dicobalah untuk ke sekian kalinya mendirikan Pesantren Darunnajah di Ulujami. Mula-mula Pesantren mengasuh 3 orang santri, sementara Tsanawiyah Petukangan dipindah ke Ulujami untuk meramaikannya. Baru pada tahun 1976, Madrasah Tsanawiyah Petukangan dibuka kembali dan secara berangsur,Pesantren Darunnajah Ulujami hanya menerima anak yang mukim saja, kecuali anak Ulujami yang boleh pulang pergi.
Bangunan yang pertama didirikan adalah masjid dengan ukuran 11 X 11 m2 dan beberapa asrama lokal. Meskipun bangunanya sederhana, namun sudah sesuai dengan master plan yang dibuat oleh Ir. Ery Chayadipura. Pada awal pembangunannya, seluruh santri selalu dilibatkan untuk membantu kerja bakti.
Pada periode inilah ditata kehidupan di Pesantren Darunnajah dengan sunnah-sunnahnya.
  1. Aktivitas santri dan kegiatan pesantren disesuaikan dengan jadwal waktu salat.
  2. Menggali dana dari pesantren sendiri untuk lebih mandiri.
  3. Meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran, dengan dibentuk Lembaga Ilmu Al-Qur’an (LIQ), Lembaga Bahasa Arab dan Inggris dan Lembaga Da’wah dan Pengembangan Masyarakat (LDPM).
  4. Beasiswa Ashabunnajah (kelompok santri penerima beasiswa selama belajar di Darunnajah) untuk kader-kader Darunnajah.

Periode Pengembangan (1987-1993)

Darunnajah mulai melebarkan misi dan cita-citanya, mengajarkan agama Islam, pendidikan anak-anak fuqara dan masakin dan bercita-cita membangun seratus Pondok Pesantren Modern. Masa inilah, saat memancarkan pancuran kesejukan ke penjuru-penjuru yang memerlukan.
Guru Guru SDI Darunnajah.jpg
Sampai dengan tahun 2004, Pesantren Darunnajah Group telah berjumlah 41.

Periode Dewan Nazir (1994-sekarang)

Perjalanan sejarah Pesantren Darunnajah yang relatif lama telah menuntut peraturan kesempurnaan untuk menjadi lembaga yang baik. Belajar dari perjalanan pondok pesantren di Indonesia dan melihat keberhasilan lembaga Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, yang telah berumur lebih 1000 tahun lamanya, Yayasan Darunnajah yang memayungi segala kebijakan yang telah berjalan selama ini, berusaha merapikan dan meremajakan pengurus yayasan.
Dengan niat yang tulus dan ikhlas, maka wakif tanah di Ulujami Jakarta K.H. Abdul Manaf Mukhayyar, Drs. K.H. Mahrus Amin, dan Drs. H. Kamaruzzaman Muslim yang ketiganya mengatasnamakan para dermawan untuk wakaf tanah di Cipining Bogor seluas 70 ha, mengikrarkan wakaf kembali di hadapan para ulama dan umara dalam acara nasional di Darunnajah pada tanggal 7 Oktober 1994.
Dalam acara tersebut wakif menguraikan niat dan cita-citanya mendirikan lembaga ini diatas sebuah piagam wakaf yang ditandatangani oleh para pemegang amanat, Dewan Nazir dan Pengurus Harian Yayasan Darunnajah yang disaksikan oleh para tokoh masyarakat dan ormas di Indonesia.
Pada tahun 2011Pesantren Darunnajah memiliki 14 cabang pesantren di berbagai tempat; JakartaBogorSerangBengkuluRiauKalimantan Timur, dengan luas asset 318 ha.
Saat ini Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami adalah Drs. KH. Mahrus Amin dan Dr. H. Sofwan Manaf M.Si.

Lembaga Pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami

  • TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) Darunnajah
  • Playgroup dan TK Islam Darunnajah
  • SD Islam Darunnajah
  • MTs, MA dan SMA (bagian dari TMI: Tarbiyyatul Mu'allimin/at Al-Islamiyyah) Darunnajah
  • STAI Darunnajah, Jurusan Tarbiyah dan Syari'ah
  • PGTK Darunnajah

Pesantren-Pesantren Darunnajah Group

  • Darunnajah Ulujami Jakarta Selatan
  • Darunnajah II Cipining Bogor
  • Darunnajah III Al-Manshur Serang Banten
  • Darunnajah IV Tsurayya Serang Banten
  • Darunnajah V An-Nahl Ciseureuh Tanjungan Cikeusik Pandeglang Banten
  • Darunnajah VI An-Nakhil Pasar Bantal Teramang Jaya Mukomuko Bengkulu
  • Darunnajah VII Jaziratunnajah Sei Bantal Binusan Nunukan Kalimantan Timur
  • Darunnajah VIII An-Nur Cidokom Gunung Sindur Bogor
  • Darunnajah IX Al-Hasanah Pamulang Tangerang
  • Darunnajah X Bintaro Jakarta Selatan
  • Darunnajah XI Al-Barakah Bengkulu
  • Darunnajah XII Dumai Riau
  • Darunnajah XIII Ciledug Tangerang Banten
  • Darunnajah XIV Nurul Ilmi Paleuh Serang Banten
9 Kesalahan Yang Sering Dilakukan WaliSantri saat Menginap di Pesantren


Bagi wali santri khususnya, Mudhifah sebenarnya bukan bertamasya dalam arti sekedar mengisi kejenuhan aktifitas. Lebih dari itu mudhifah bagi sebagian berlaku sebagai obat kerinduan yang tidak bisa terwakili. Mudhifah juga bisa sebagai bentuk perjuangan walisantri dalam hubungannya dengan anak2nya. Karena dalam mudhifah juga mesti ada pengorbanan: biaya, waktu dan tenaga. Tapi sungguh semua itu terbayar dengan dapat melihat buah hatinya secara langsung sedang berjihad ilmu.

Tapi sebagaimana pun kadang kesenangan bisa juga melalaikan. Kelalaian disebabkan kelupaan bahwa kita berkunjung di suatu tempat yang sebenarnya memiliki aturan. Yang mana kelalaian ini kadang terjadi tanpa disadari atau keterpaksaan. Mungkin kita salah satu dari itu.

Beberapa kesalahan yg sering nampak disaat walisantri menginap di Pesantren(Penulis mengambil pengalaman di Bapenta Gontor 1, tapi mungkin sama dengan pesantren lain) antara lain:

1. Lupa daftar kedatangan ke bagian Penerimaan Tamu saat bermalam di Bapenta

Karena terburu-buru atau lupa kadang walsan lupa mendaftarkan diri di bagian Penerimaan Tamu, padahal ini dimaksudkan untuk ketertiban pendataan dan keamanan. Mudah-mudahan tidak ada yang menganggap remeh dengan proses pendaftaran ini.

2. Tidur tidak pada tempat seharusnya
Beberapa Pondok telah menyiapkan ruang khusus untuk bermalam sementara bagi wali santri. Dan Pondok telah mengatur bagian-bagian dimana Ibu2/wanita tidur dan dimana Bapak/laki. Tapi kadang masih kita lihat dalam satu ruangan bercampur pengunjung laki2 dan perempuan.

3. Tidak Sedikit Yang Membuang Sampah Sembarangan
Ini hal yang paling banyak dikeluhkan walisantri yang melihat wali santri lain dengan tanpa rasa bersalah membuang sampah sembarangan, atau memakai fasilitas Bapenta seperti meja atau lantai dengan jorok. Mereka mungkin lupa bahwa di pondok tidak ada petugas cleaning service melainkan santri2 juga.

4. Tidak menjaga Fasilitas Pondok dengan Benar.
Fasilitas yang sering dikeluhkan wali santri lain terhadap beberapa wali santri yang kurang peduli yaitu seperti Kamar mandi. Tidak jarang kita melihat sampah di kamar mandi, atau sisa pembalut, atau pakaian yang tertinggal, atau bahkan kotoran yang belum disiram. Belum lagi sepatu kotor yang kadang mengotori lantai, atau meja makan yang tersisa makanan sisa yang tidak dibuang.

5. Menjemur Pakaian di Pagar
Bapenta sudah menyiapkan sarana wali santri untuk menjemur pakaian dilantai atas gedung Bapenta, tapi tidak jarang kita lihat masih ada yang menjemur pakaian di pagar-pagar lantai 2 dan 3.

6. Memakai Alat Listrik Yang Dilarang
Bapenta menyediakan listrik hanya untuk keperluan seadanya seperi untuk penerangan dan cas alat komunikasi itupun hanya di Bagian Penerimaan Tamu (tapi jangan lupa ngencleng ya 😀), tapi masih ada yang memakai alat yang mengkonsumsi daya listrik yang besar, seperti water heater, rice cooker dan lain-lain. Padahal wali santri tidak dibebankan biaya penginapan.

7. Tidak membayar sewa Kasur.
Beberapa pesantren menyediakan kasur bagi wali santri untuk disewa sebagai alas tidur. Mungkin Walsan lupa atau tidak tahu bahwa kasur lipat itu didapat dengan cara disewa. Mungkin ini salah satu sumber biaya perawatan pesantren. Jadi yang baru tahu atau lupa hayo mulai berikutnya bayar! 😁

8. Menahan Anak Terlalu Lama Saat Bertemu
Ini biasanya tidak terjadi pada santri2 lama karena biasanya santrinya yang sering minta buru-buru. Beberapa terjadi pada santri baru, yang kadang santrinya atau orangtuanya masih belum puas melepas rindu.

9. Berlama-lama Menginap
Ada yang pindah kost an ke pesantren? 😁. Walau gratis dengan berbagai fasilitas tapi terlalu lama menginap di Bapenta juga menjadi tidak bijak, baik bagi walsan lain maupun bahkan bagi kebaikan studi anaknya sendiri. Pondok menganjurkan paling cepat 3 bulan sekali dan lama berkunjung katanya idealnya paling lama 3 hari.

Demikian yang teringat dan tercatat yang bisa disampaikan, mungkin ada yang kurang tepat atau ada poin yang belum tercatat, dengan senang hati menerima masukan.


KUGAPAI MIMPI DI PESANTREN (Cerpen Bersambung)
Jariku menunjuk nama demi nama di papan pengumuman. Aku sangat berharap namaku ada diantara  siswa yang beruntung itu. Jantungku berdegup kencang dan keringat dingin membasahi sela-sela jari. Jari ini bergerak dari satu kertas ke kertas lainnya. Hingga jari ini berhenti dan menunjuk sebuah nama. Ghazi Muhammad Al-Fatih. “Alhamdulillah ya Allah aku diterima” ucapku dengan rasa syukur yang tak terkira. Aku diterima di SMA Internasional yang tersohor di Jakarta dengan jalur beasiswa.
            Angkot yang aku tumpangi tak terasa panas hari ini, keringat ibu-ibu yang pulang dari pasarpun tercium wangi. Aku sudah tak sabar ingin sampai di rumah dan mengabarkan keberhasilanku ini kepada Ibu. Baru kali ini aku dapat membuat mereka bangga. Tentunya dengan beasiswa yang kuterima ini, Ayah tak harus memikirkan beban biaya sekolahku nanti.
***
            “Kenapa tidak boleh Ayah?” kataku dengan mengiba. Aku ingin tahu kenapa Ayah tak mengizinkanku bersekolah di SMA Internasional.
            “Ayah ingin kamu tetap bersekolah di Pondok Pesanten?” ujar Ayah dengan menepuk-nepuk pundakku.
            “Tapi Ayah, aku sudah dapat beasiswa, jadi Ayah tak perlu memikirkan biaya sekolahku lagi” kataku dengan sedikit memaksa.
            “Anakku, dengarkanlah Ayah, meskipun Ayahmu ini kerjanya serabutan, kadang bekerja kadang nganggur tapi Ayah masih mampu membiayaimu sekolah. Ayah akan mencari tambahan pekerjaan agar dapat mencukupi hidupmu di pondok pesantren” ujar ayah meyakinkanku.
            “Dari mana uangnya? Saat ini biaya di pondok pesanten sangat mahal!”
            “Dari Allah!” ujar Ayah sembari meninggalkanku menuju ke samping rumah. Jawaban Ayah tadi membuatku tersentak. Aku terpaku tak hentinya memikirkan ucapan beliau. Aku hanya tak ingin menjadi beban beliau. Kini beliau sudah mulai menua, uban putih sudah memenuhi kepalanya, sepertinya ia sudah tak kuat untuk mencangkul lebih lama lagi. “Ya Allah, luluhkanlah hati Ayahku?” kataku perlahan, tiba-tiba Ibu merangkulku dari belakang dan menciumku sangat lama.
            “Fatih, Ayahmu benar. Allah akan mencukupinya. Turutilah Ayahmu, Nak” kata Ibu dengan suara lembutnya. Akupun hanya membisu, tak tahu harus berkata apa.
            “Fatih, apa kamu mendengar ucapan Ibu?” ujar ibu padaku
            “Iya Bu, Fatih mendengarnya. Baiklah Bu, Fatih akan menuruti perkataan Ayah. Fatih akan meneruskan ke Pondok Pesantren” akupun berlalu meninggalkan Ibu seorang diri.
            “Ya Allah, semoga melepas beasiswa di SMA Internasional merupakan keputusan yang benar, dan semoga aku tak menyesalinya kelak…”.
***
            Hari ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pondok pesanten ini. Aku kebingungan, mata ini tak henti-hentinya memandangi tembok-tembok tinggi di pesantren. Tembok itu terasa sangat dingin padaku. Semakin kupandang semakin membuatku merasa kecil dan asing. “Ya..Allah, mudahkan aku dalam menuntut ilmu” bisikku sembari mencari tempat istirahat.
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di masjid ”kataku sambil membuka sepatu. Kemudian terlihat seseorang laki-laki berjenggot mendekatiku.
“Akhi, antum santri baru ya? Namanya siapa?” katanya sambil mengulurkan tangan padaku.
“Oh..iya mas. Saya Ghazi Muhammad Al-Fatih mas, panggil aja Fatih”
“Aku Irsyad. Satu tahun diatasmu. Semoga nanti betah di pesantren”
“Iya mas, amin. Permisi mas, mau ambil wudhu dulu”
“Oh…iya silahkan”
Akupun bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat ashar berjamaah. Seusai sholat tak lupa aku memanjatkan doa untuk kedua orang tuaku. Entah kenapa baru sehari saja meninggalkan rumah aku sudah ingin segera kembali. Saat itu aku teringat pesan Ayah ketika aku hendak berangkat ke Pesantren.”Fatih, jaga dirimu baik-baik di pesantren. Hafalkan Al-Quran. Nak. Ayah ingin melihat kamu menjadi orang yang berilmu dan mulia. Kemudian terbayang pula wajah teduh Ibu yang sangat menyayangiku.”Anakku,Ibu mencintaimu karena Allah” .
***
Setelah satu bulan di pondok pesantren…
            Awal hidup di pesantren memang tak semudah yang aku bayangkan. Aktivitas dari bangun pagi hingga kembali tidur sudah diatur di selembar kertas yang ditempel di dinding kamar masing-masing. Ketika jam tiga pagi, sudah ada pendamping yang siap meneriaki kami untuk segera bangun untuk melaksanakan shalat tahajud. Setelah itu kami harus menghafalkan Al-Quran sembari menunggu adzan subuh tiba
“Sudah hafal berapa juz dik?” kata mas Rasyid padaku.
“Waduh mas, masih sedikit. Masih tiga juz mas” kataku nyengir.
 “Alhamdulillah, terus semangat! Allah menyukai orang-orang yang dekat dengan Al-Quran. Tapi Dek, sudah coba menguji hafalmu kan?” ujar mas Rasyid menambahi perkataanya.
“Sudah mas, sudah saya setor ke Ustadz. Beres lahh…”
“Hahaha, kamu lucu sekali. Bukan itu maksudnya Fatih! Begini, maksud kakak, cobalah kamu gunakan hafalanmu ketika shalat sunnah. Perpanjanglah bacaan dengan surat-surat yang sudah kamu hafal” ujar mas Rasyid sembari meninggalkanku.
“Oo begitu…baikklah mas, akan Fatih coba. Sukran Mas!” teriakku pada mas Rasyid yang telah berlalu.
Akupun mencoba saran dari Mas Rasyid untuk menggunakan hafalan dalam shalat sunnahku. Subhanallah, ternyata yang tadinya hafal menjadi terbata-bata ketika digunakan saat shalat.
***
“Ayah sehat Bu?” tanyaku kepada Ibu lewat telepon.
“Alhamdulillah nak, semua sehat. Fatih, maaf bulan ini kami tidak bisa mengirimi uang yang cukup buatmu. Sementara pakai itu dulu ya nak. Insya Allah jika ada rezeki lagi akan Ibu kirim uangnya” ujar Ibu.
“Iya Bu, tidak apa-apa. Insya Allah ini cukup Bu” kataku pada Ibu agar ia tak terlalu mecemaskanku.
“Bagaimana hafalanmu Nak? Sudah dapat berapa juz?”
“Sudah lima juz Bu”
“Semoga Allah memudahkanmu dalam menuntut ilmu. Ibu dan Ayah hanya dapat mendoakanmu dari jauh. Tadi ayahmu titip pesan Nak, meskipun dalam kesempitan jalan lupa bershodaqoh. Ya sudah, ibu tutup dulu teleponnya. Wassalamualaikum..”
Waalaikumsalam...”
            Rasa rindu kepada orang tua sedikit terobati dengan telepon tadi. Setelah enam bulan lebih aku dipondok, ini bukan pertama kalinya mereka tidak bisa mengirim uang yang cukup untukku. Beberapa kali aku harus bersabar karena tidak ada uang sepeserpun di kantong. Aku pegang sisa-sisa uang yang kupunyai. Agar tak terlupa, uang untuk shadaqoh segaja aku sisihkan dari dompetku. Ayah mengajarkanku sejak kecil bahwa ada hak-hak orang lain di dalam uang yang kita miliki. “Aku lelah sekali! “kataku sembari merebahkan badanku ke dipan dan berharap agar segera bisa tertidur.
            Malampun berganti, kokok ayam jantan mulai terdengar satu per satu. Suara kicauan burung pipit juga ikut meramaikan sunyinya subuh pagi ini. Sebelum suara adzan berkumandang, segera aku selesaikan makan sahurku. “Ya Allah, aku berniat berpuasa daud. Kuatkanlah tubuhku hinga sore hari. Amin. Saat uang menipis, biasanya aku menjadi sangat rajin untuk berpuasa. Semoga itu tak mengurangi ensensi puasa” gumamku dalam hati.
            Dengan semangat berjuang untuk mencari Ilmu Agama kulangkahkan kaki menuju gedung madrasah. Pagi ini sinar matahari nampak cerah. Kulihat ribuan santri berduyun-duyun menuju kelas. Namun langkahku terhenti ketika tepat berada di depan papan pengumuman. Dalam pengumuman itu tertera bahwa lusa akan diadakan seleksi pertukaran pelajar ke Mesir. “Aku harus ikut!” kataku sambil menulis persyaratan-persyaratan yang harus aku lengkapi. Saat itu pula aku segera berlari ke kantor untuk meminjam telepon. Aku akan meminta izin dan mohon doa pada kedua orang tuaku.
***
            “Fatih, bagaimana hasilnya?” tanya Ayah padaku.”
            “Aku lolos. Ayah, aku tidak menyangka akan terpilih”
            “Alhamdulillah ya Allah.Selamat ya Fatih. Anakku, yang perlu kamu ingat Nak, kamu lolos itu karena Allah, bukan karena kepandaian dan kemampuanmu” ujar Ayah padaku.
“Iya, Fatih mengerti”
 “Oh iya Nak, Ibumu seminggu ini tak henti-hentinya mendoakanmu. Ia selalu bangun untuk shalat tahajud.
“Sampaikan terimaksih Fatih pada Ibu” kataku pelan sambil berusaha menahan air mata.
“Fatih, mengapa suaramu terdengar tak bersemangat. Apa ada yang kamu pikirkan nak?” tanya Ayah kepadaku.
“Ayah, ada biaya administrasi yang harus dipenuhi. Sepertinya aku tak usah berangkat saja ke Mesir. Biayanya mahal…”
“Berapa nak?”
“12 juta”
“Berangkat saja! Sudah nak, kamu ga usah mikirin biaya. Biar Ayah saja yang urus. Karena Allah telah memberimu kesempatan untuk mencari ilmu di Mesir, tentunya Allah pula yang akan membiayai dan mencukupi pendidikanmu disana. Yakini itu Nak, janji Allah itu pasti!” kata Ayah meyakinkanku. Hatiku bergetar tiada henti. Sungguh aku dapat merasakan kenikmatan dari ucapan Ayahku, ucapannya begitu teduh dan penuh dengan keyakinan pada Allah.
 “Terimakasih Ayah…”
***
Saat ini aku berada dalam pesawat terbang menuju Mesir. Hatiku sangat bahagia. Aku bahagia karena orang tuaku  memiliki rasa cinta pada Allah yang begitu besar. Benar kata Ayah. Allah akan mencukupinya. Subhanallah, semua biayaku ke Mesir bukan berasal dari kantong Ayahku, namun dari beberapa teman Ayah dan ustadz-ustadz di daerahku yang menginfaqkan hartanya untuk memudahkan orang yang menuntut ilmu agama. Ternyata, percaya pada Allah itu lebih dari cukup. Percayalah pada Allah maka keajaiban-keajaiban akan terjadi pada  kehidupanmu ….”Allahu Akbar…!!”  (Sumber)
-------------Bersambung---------------
Keluarga Pesantren: Pentingnya Dialog Ayah dan Anak


Jika anak kita menelepon dari pondok, kira-kira antara ayah dan ibu, kepada siapa anak lebih banyak ngobrol? Ternyata memang jika ingin sukses dalam perannya, kita, sebagai ayah haruslah memiliki ilmu untuk itu. Apalagi kita sebagai wali santri Gontor dari anak-anak yang berprofesi sebagai ustadz maka walau kita tidak pandai dalam ilmu-ilmu agama setidaknya kita bisa menjadi ayah sesuai tuntunan agama. Bagaimana Islam memandang seorang ayah dalam pendidikan keluarga? Silakan baca berikut ini

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Sebuah tulisan ilmiah akan menjadi inspirasi kajian kita dalam tema ini. Tulisan ilmiah tersebut karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri, untuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam : “Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya

Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya. Menarik ya yah….
Sudah gak sabar nih untuk baca bersama…. Peran ayah dalam mendidik anak

Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.
Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:

• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)

Lihatlah ayah, Masya Allah…

Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas. Pentingnya mengajarkan kejujuran pada anak juga menjadi poin penting dalam pendidikan anak yaa.
Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 banding 2!
Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi.
Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya.
Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias ngamuk, eh maaf…marah. Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara.
Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking rutinitas yang hanya basa basi dan itu-itu saja.

Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pesannya, kisahnya dan dialognya.

Ayah, kembali ke al-Qur’an..Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya.
Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya. Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting.

Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya. Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah:
"ayah, kalian harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian. Dan… Jangan jadi ayah bisu! Ambil peranan orang tua dalam pendidikan anak" (SUmber)
Tokoh Islam: Ibnu Khaldun, Pendiri Ilmu Historiografi


Ibnu Khaldun, nama lengkap: Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي) (lahir 27 Mei 1332 – meninggal 19 Maret 1406 pada umur 73 tahun) adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan).
Lelaki yang lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.

Riwayat hidup

Kehidupan Ibn Khaldun didokumentasikan dengan baik, saat dia menulis sebuah otobiografi (التعريف بابن خلدون ورحلته غربا وشرقا, at-Ta'rīf bi-ibn Khaldūn wa-Riḥlatih Gharban wa-Sharqan) di mana banyak dokumen mengenai hidupnya dikutip kata per kata.

Abdurahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin bin Abdurahman bin Ibnu Khaldun, yang dikenal sebagai "Ibnu Khaldun", lahir di Tunisia pada tahun 1332 M (732 H.) berasal dari keluarga Andalusia kelas atas keturunan Arab. Leluhur keluarga tersebut memiliki hubungan kekerabatan dengan Waíl ibn Hujr, seorang teman Nabi Muhammad. Keluarga Ibnu Khaldun memiliki banyak kantor di Andalusia, beremigrasi ke Tunisia setelah jatuhnya Sevilla ke Reconquista pada tahun 1248. Di bawah pemerintahan dinasti Hafsiyun beberapa keluarganya memegang jabatan politik; namun Ayah dan kakek Ibnu Khaldun menarik diri dari kehidupan politik dan bergabung dalam tatanan mistis.

Saudaranya, Yahya Khaldun, juga seorang sejarawan yang menulis sebuah buku tentang dinasti Abdalwadid, dan ia dibunuh oleh saingannya yakni seorang ahli historiografi.

Dalam otobiografinya, Ibnu Khaldun menelusuri keturunannya kembali ke masa Nabi Muhammad melalui suku Arab dari Yaman, khususnya Hadramaut, yang datang ke Semenanjung Iberia pada abad kedelapan pada awal penaklukan Islam. Dengan kata-katanya sendiri: "Dan keturunan kita berasal dari Hadramaut, dari orang-orang Arab Yaman, melalui Wa'il ibn Hujr yang juga dikenal sebagai Hujr bin Adi, dari orang-orang Arab terbaik, terkenal dan dihormati." (Halaman 2429, edisi Al-Waraq). Namun, penulis biografi Mohammad Enan mempertanyakan klaimnya, menunjukkan bahwa keluarganya adalah seorang Muladi yang berpura-pura berasal dari Arab untuk mendapatkan status sosial. Enan juga menyebutkan tradisi masa lalu terdokumentasi dengan baik, mengenai kelompok-kelompok Berber tertentu, di mana mereka secara hati-hati "menambah" diri mereka menjadi beberapa keturunan Arab. Motif semacam ini adalah demi keinginan untuk meraih kekuasaan politik dan kemasyarakatan.

Beberapa berspekulasi tentang keluarga Khaldun ini; Diantaranya menjelaskan bahwa Ibnu Khaldun sendiri adalah produk dari keturunan Berber yang sama dengan mayoritas penduduk asli tempat kelahirannya. Sarjana Islam Muhammad Hozien berpendapat bahwa "Identitas palsu [Berber] akan berlaku namun pada saat nenek moyang Ibnu Khaldun meninggalkan Andalusia dan pindah ke Tunisia mereka tidak mengubah klaim mereka terhadap keturunan Arab. Bahkan di saat Berber berkuasa, Pemerintahan Al-Marabats dan al-Mowahid, dan Ibnu Khaldun tidak merebut kembali warisan Berber mereka". Penelusuran Ibu Khaldun dari silsilah dan nama keluarganya sendiri dianggap sebagai indikasi paling kuat dari keturunan Arab Yaman.

Karya

Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).

DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of Aberdeen, Scotland dalam artikelnya “The Islamic Review & Arabic Affairs” pada tahun 1970-an mengomentari tentang karya-karya Ibnu Khaldun. Ia menyatakan, “Tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu Khaldun hanya satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat, terutama ahli-ahli sosiologi dalam bahasa Inggris (yang menulis karya-karyanya dalam bahasa Inggris).” Salah satu tulisan yang sangat menonjol dan populer adalah muqaddimah (pendahuluan) yang merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji hingga saat ini.

Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan ‘gejala-gejala sosial’ dengan metode-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut. Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat modern dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.

Bab ke dua dan ke empat berbicara tentang gejala-gejala yang berkaitan dengan cara berkumpulnya manusia serta menerangkan pengaruh faktor-faktor dan lingkungan geografis terhadap gejala-gejala ini. Bab ke empat dan kelima, menerangkan tentang ekonomi dalam individu, bermasyarakat maupun negara. Sedangkan bab ke enam berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuan serta alat-alatnya. Sungguh mengagumkan sekali sebuah karya di abad ke-14 dengan lengkap menerangkan hal ihwal sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu dan pengetahuan. Ia telah menjelaskan terbentuk dan lenyapnya negara-negara dengan teori sejarah.

Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya.

Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.”

Peninggalan

Gagasan Ibnu Khaldun menginspirasi hadirnya kurva Laffer


Ibnu Khaldun pertama kali menjadi perhatian dunia Barat pada tahun 1697, ketika sebuah biografi tentang beliau muncul di Bibliothèque Orientale Barthélemy d'Herbelot de Molainville. Ibnu Khaldun mulai mendapatkan perhatian lebih pada tahun 1806, ketika Silvestre de Sacy's Chrestomathie Arabe memasukkan biografinya bersama dengan terjemahan bagian Muqaddimah sebagai Prolegomena. Pada tahun 1816, de Sacy kembali menerbitkan sebuah biografi dengan deskripsi yang lebih rinci tentang Prolegomena. Rincian lebih lanjut tentang dan sebagian terjemahan Prolegomena muncul selama bertahun-tahun sampai edisi bahasa Arab yang lengkap diterbitkan pada tahun 1858. Sejak saat itu, karya Ibnu Khaldun telah dipelajari secara luas di dunia Barat dengan minat khusus.
  • Sejarawan Inggris Arnold J. Toynbee menyebut Muqaddimah sebagai "sebuah filosofi sejarah yang tidak diragukan lagi merupakan karya terbesar dari jenisnya yang pernah diciptakan oleh pikiran manapun kapanpun atau dimanapun."
  • Filsuf Inggris Robert Flint menulis hal berikut tentang Ibn Khaldun: "Sebagai seorang ahli teori sejarah, dia sama sekali tidak setara dalam usia atau negara manapun sampai Vico muncul, lebih dari tiga ratus tahun kemudian. Plato, Aristoteles, dan Agustinus bukanlah teman sebayanya, dan Semua yang lain tidak layak untuk disebutkan namanya bersamanya ".
  • Abderrahmane Lakhsassi menulis: "Tidak ada sejarawan Arab Maghrib terutama orang-orang Berber dapat melakukan sesuatu tanpa kontribusi historisnya."
  • Ahli antropologi filsuf Inggris Ernest Gellner mempertimbangkan definisi pemerintahan oleh Ibnu Khaldun sebagai "sebuah institusi yang mencegah ketidakadilan", sebagai yang terbaik dalam sejarah teori politik.
  • Egon Orowan, yang menciptakan konsep socionomy, dipengaruhi oleh gagasan Ibnu Khaldun tentang evolusi masyarakat.
  • Arthur Laffer, yang menamai kurva Laffer, mencatat bahwa, antara lain, beberapa gagasan Ibnu Khaldun menginspirasinya.
  • Pada tahun 2004, Pusat Komunitas Tunisia meluncurkan Penghargaan Ibnu Khaldun yang pertama sebagai seorang berprestasi berpendidikan tinggi / berpendidikan Tunisia / Amerika yang karyanya mencerminkan gagasan Ibnu Khaldun tentang kekerabatan dan solidaritas. Penghargaan ini dinamai Ibn Khaldun karena dia diakui secara universal sebagai Bapak Sosiologi dan juga untuk konvergensi gagasannya dengan tujuan dan program organisasi.
  • Pada tahun 2006, Atlas Economic Research Foundation meluncurkan sebuah kontes esai tahunan untuk siswa yang diberi nama dalam kehormatan Ibnu Khaldun. Tema dari kontes ini adalah "bagaimana individu, think tank, universitas dan pengusaha dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah untuk memungkinkan pasar bebas berkembang dan memperbaiki kehidupan warganya berdasarkan ajaran dan tradisi Islam."
  • Pada tahun 2006, Spanyol memperingati ulang tahun ke 600 kematian Ibnu Khaldun. (Wikipedia)
Filofosi T.I.T.I.P dalam Menitipkan Anak di Pesantren
Menjadi santri adalah sebuah pilihan dan juga nikmat yang amat berharga dalam diri seseorang, santri atau pelajar baru yang baru masuk pesantren pada umumnya akan mengalami sedikit masalah dengan proses adaptasi dengan lingkungan pesantren.

Orang tua sangat mengiginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk ketika orang tua telah sepakat untuk memasukan anaknya ke dalam pesantren, ketika semua sudah dipersiapka jauh-jauh hari agar anaknya kerasan dan betah di pesantren, tetapi yang namanya anak baru di pesantren,tetap saja tidak bisa lansung bisa menyesuaikan dengan kondisi system dan lingkungan pesantren.

Meskipun ada beberapa santri baru, yang bisa benar-benar langsung kerasan dan bahagia ketika hari-hari pertama masuk pesantren, tetapi itupun tidak dialami oleh kebanyakan santri baru. Dan hal-hal yang kadang membuat mereka tidak betah ketika awal masuk pesantren adalah seperti tidak punya teman, tidak ingin ditinggal oleh orang tua, bingung dan masih berusaha menyesuaikan dengan segala aktifitas di pesantren, teman se kamar masih sulit untuk berbaur dan bersosialisasi.

Nah, itulah yang biasanya akan dialami oleh santri baru ketika masuk ke pesantren, ketika tanda-tanda diatas dialami oleh santri baru, itu merupakan permasalahan inti dan setalah poin diatas diraskan olah santri baru, maka hal-hal dibawah ini juga akan otomatis mengiringi perasaan tidak kerasan mereka di  pesantren. Permasalahan itu pastinya membuat walisantri tambah bingung maka apa yang harus dilakukan walisantri ????? Penulis punya sedikit TIPS untuk walisantri dalam memperjuangkan anaknya  yaitu yang terkandung pada kata bahasa Jawa TITIP.

TI (YANG PERTAMA) = TEGA DAN IKHLAS.

Agar anak bisa sukses di pesantren, maka orangtua harus tega dan ikhlas melepas anaknya tumbuh dan berkembang di sana. Harus tega  meninggalkan anaknya, meski sang anak menangis ketika ditinggal. Harus tega dan ikhlas melihat anaknya bersusah payah mengatasi segala urusannya sendiri meskipun sampai habis air matanya.


TI (YANG KEDUA) = TABAH DAN ISTIQAMAH
Agar proses pendidikan anak bisa berhasil di pondok, maka orangtua harus tabah menjalani semuanya dan tetap istiqamah (konsisten) dengan niatan itu. Artinya, janganlah mudah surut hanya karena rengekan atau keluhan dari sang anak. Tetaplah konsisten dengan niatan semula. Sebab, menuntut ilmu itu tidaklah mudah, apalagi bagi anak yang terpisah dari orangtua, pastilah banyak halangan dan rintangan yang dihadapi. Jika orangtua tidak tabah dan istiqamah dalam menjalaninya, sedikit saja rengekan dari anaknya, akan dengan mudah membuat mundur dan tidak lagi melanjutkan pendidikan yang sudah direncanakan. Kalau pun ada rengekan dari santri tentang pondoknya pahami masalahnya dan disikapi sebaik mungkin tanpa tergesah gesah.

P = PERCAYA

Dan semua itu dasarnya adalah percaya bahwa PONDOK tidak akan menyia-nyiakan anak didiknya. Dengan niat yang tulus, proses pendidikan akan dijalankan dengan baik. Keikhlasan yang menjadi prinsip utama pendidikan di situ, insya Allah akan mampu memberikan pendidikan yang baik bagi para santrinya. INTINYA PERCAYA !!!!
Mungkin itulah yang bisa saya bagikan. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan referensi bagi calon santri baru, orang tua, wali santri yang memiliki niat mulia yaitu memasukan anaknya ke pondok pesantren, selamat mondok, Ayo Mondok.!! Semangat Mondok !!!! Pesantrenku Keren..!
Oleh Kharis Mahmud, S.Ag